ILMU KALAM
I. PENDAHULUAN
Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan
kepercayaan-kepercayaan keagamaan (agama islam) dengan bukti-bukti yang yakin.
Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas soal-soal keimanan yang sering juga
disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin.
Dan Ilmu kalam juga adalah disiplin ilmu keislaman yang banyak
mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan.
Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang
mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun
naqliyah. Argumentasi yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung
menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya
bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits.
Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak
menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam menerangkan bahwa Allah
bersifat Sama’, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat, dan sebagainya.
1. Materi Kajian Ilmu
Kalam
Ilmu kalam adalah ilmu yang
memfokuskan bahasanya mmengenai Allah SWT. Karena itu disebut juga Teologi
islam.
Nama lain dari Ilmu Kalam : Ilmu
Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha Esa-an Tuhan),
Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama). Disebut juga 'Teologi Islam'. 'Theos'
Tuhan; 'Logos' ilmu. Berarti ilmu tentang ke Tuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip
dan ajaran Islam, termasuk di dalamnya persoalan-persoalan ghaib.
Menurut Ibnu Kholdun dalam
kitab moqodimah mengatakan ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan
mempertahankan kepercayaan-keprcayaan iman dengan menggunakan dalil fikiran dan
juga berisi tentang bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai
kepercayaan-kepercayaan menyimpang. Ilmu= pengetahuan, Kalam= pembicaraan',
pengetahuan tentang pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan Persoalan
terpenting yang di bicarakan pada awal Islam adalah tentang Kalam Allah
(Al-Qur'an).
Dasar Ajarannya, Dasar Ilmu
Kalam adalah dalil-dalil fikiran (dalil aqli) Dalil Naqli (Al-Qur'an dan Hadis)
baru dipakai sesudah ditetapkan kebenaran persolan menurut akal fikiran. (Persoalan
kafir-bukan kafir).
2.
Sebab-sebab penamaan Ilmu kalam, Tauhid, Ushuludin, Teologi Islam
-
Ilmu Kalam
Pembicaraan tentang Tuhan dibahas
dengan logika tetapi pembicaraan yang menggunakan dalil-dalil dan berlanjut
pada masalah sifat kalam bagi Allah, seperti persoalan; apakah Al-Quran itu
baharu atau qodim.
Menurut
Syeh Muhammad Abduh; ada 3 sebab dinamakan ilmu kalam.
1. Persoalan
qodim nya kalamullah
2. Penggunaan
dalil aqli sebegitu rupa, sehingga sedikit menggunakan dalil naqli(Quran
Hadits)
3. Penggunaan
metode argumentasi menyerupai ilmu mantiq atau logika
“sebutan ilmu kalam
pertama kali digunakan di masa daula abasiyah 300 H.[1]
- Tauhid
Karena
masalah keesan Allah, sebab satu bagian darimasalah aqidah. Dan ulama tauhid
mempermulasikan keyakinan bahwa Allah itu Esa/tidak ada sekutu baginya.
- Ushuludin
Karena
pokok-pokok agama yang terfokus pada tauhid atau keyakinan bahwa Allah itu Esa,
Zat, Sifat, dan Af’al.
-
Teologi Islam
Karena teologi mempelajari tentang
zat tuhan dari segala seginya dan pertalian tuhan dengan alam semesta. Karena
terlalu luas teologi, maka dibatasi dengan sifatnya yaitu teologi islam,
teologi kristen, hindu dll.
Disebut teologi islam, karena
penelitianya sama dengan ilmu kalam yaitu bidang kajianya sama.[2]
3. Hubungan Ilmu kalam
dan Ilmu Dakwa
1.
Pengertian
Ilmu Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu
keislaman yang mengedepankan persoalan kalam Tuhan dengan dasar-dasar
argumentasi, baik rasional/aqliyah (berpikir filosofis) maupun naqliyah
(dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits). Ilmu kalam
atau ushuluddin atau aqidah atau teologi membahas masalah ketuhanan dan
kewajiban manusia terhadap tuhan, tentang keimanan, serta kufur dengan
menggunakan argumentasi logika.
2. Pengertian Dakwah islam
Menurut kamus besar bahasa
dakwah adalah panggilan, ajakan, seruan. Menurut Syaikh Ali Makhfudh
dakwah mendorong manusia dan menyeru mereka kepada kebajikan dan mencegah
mereka dari perbuatan mungkar.
·
Hubungan Ilmu Kalam Dengan Dakwah Islam.
Menurut Toha Yahya Oemar Ilmu kalam sangat
berkaitan erat dengan dakwah islam karena dakwah islamiyah mengajak umat
manusia kejalan yang benar sesuai syari’at islam dengan disertai metode
penyampaian dakwah islam dengan baik dan benar sehingga umat manusia mampu
menerima penyampaian dakwah kita.[3]
I.
Beberapa
Pengertian Dasar
1
.Iman, Kufur, dan Nifak
-Iman.
Menurut Hasan Hanafi, ada empat istilah kunci yang biasanya digunakan oleh para teolog muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu :
a. Marifah bi al-aql, (mengetahui dengan akal)
b. Amal, perbuatan baik dan patuh
c. Iqrar, pengakuan secara lisan,
dan
d. Tashdiq, membenarkan dengan hati, termasuk pula di dalamnya Marifah bi al-aql, (mengetahui
dengan akal)
Keempat istilah kunci tersebut misalnya terdapat dalam hadits Nabi SAW.
yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Syahid Al-Khudri :
“Barang siapa di antara kalian yang melihat (ma’rifah) kemungkaran,
hendaklah mengambil tindakan secara fisik. Jika engkau tidak berkuasa, maka
lakukanlah dengan ucapanmu. Jika itu pun tidak mampu, lakukanlah dengan
kalbumu.(akan tetapi yang terakhir) ini merupakan iman yang paling lemah.”
-Kufur.
Kufur
adalah lawan iman yang artinya menutup mata
hati/tidak percaya kepada Allah SWT.
Macam-macam
kafir:
1. Kafir
munafik, yaitu tidak beriman tetapi mengaku beriman.
2. Kafir
murtad, yaitu kafir yang masuk islam lalu kembali kekafir lagi.
3. Kafir
musyrik, mempercayai tuhan lebih dari satu.
4. Kafir
kitabi, ahli kitab Yahudi dan Nasroni yang beriman kepada kitab Allah sebelum
Al-quran datang, setelah Al-quran datang mereka tidak mengimani al-quran
sebagai kitab Allah.
5. Kafir
mu’athil, yaitu tidak percaya adanya Tuhan. Segala yang ada ini terjadi
sendirinya.
6. Kafir
zindiq, yaitu pura-pura beriman, mengakui kerasulan Muhammad, serta menzhoirkan
kepercayaan dan mengerjakan pokok-pokok islam, tetapi menyembunyikan
keinginanya untuk menentang dan merusak islam.
-Nifaq.
Secara bahasa, nifaq berarti lobang
tempat keluarnya yarbu(binatang sejenis tikus)dari sarangnya, dimana jika ia
dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain.
Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah
tempat bersembunyi.
Adapun nifaq menurut syara’ artinya
: menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan
kejahatan.
2.
Tauhid Zat, sifat, Af’al, Rububiyah, Uluhiyyah, syirik
- Tauhid (dzat)
Ialah bahwa Allah SWT itu Esa, tidak
ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada yang sepadan bagi-Nya. Lebih dari itu, mustahil ada yang mampu menyaingi-Nya, atau menyamai-Nya. Pengkhususan Allah dan keesaan-Nya dalam penciptaan, memberi rezki,
mengatur semua makhluk dan malaikat.[4]
Firman Allah
SWT,
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ
أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ اْلأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu
sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan
(pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yabg Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
- Sifat
Sebagai Sang Khalik,
Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang
dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Mengenal sifat-sifat Allah dapat
meningkatkan keimanan kita. Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu
ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri
kepada Allah swt. Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20.
1. Wujud
Sifat Allah yang
pertama yaitu Wujud. Wujud artinya ada. Keimanan seseorang akan membuatnya
dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karena
Allah yang menciptakannya.
“Sesungguhnya Rabb
kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu
Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta
alam.“ (QS. Al-A’raf: 54)
2. Qidam
Qidam berarti dahulu
atau awal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih
dulu ada dari pada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.
“Dialah yang Awal
dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu. “ (QS. Al-Hadid: 3)
3. Baqa’
Sifat Allah Baqa’ yaitu
kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan
hancur. Kita akan kembali kepadaNya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal.
“Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan. “ (QS. Ar-Rahman: 26-27)
4. Mukhalafatu lil
hawadits
Sifat Allah ini artinya
adalah Allah berbeda dengan ciptaanNya. Itulah keistimewaan dan Keagungan Allah
swt.
“Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
“ (QS. Asy-Syura: 11)
5. Qiyamuhu
binafsihi
Sifat Allah selanjutnya
yaitu Qiyamuhu binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri. Allah menciptakan
alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain
sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun.
“Allah, tidak ada
Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus
mengurus makhluk-Nya. “ (QS. Ali-Imran: 2)
6. Wahdaniyyah
Sifat Allah Wahdaniyyah
yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa
ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah.
“Sekiranya ada di
langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak
binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy dari pada apa yang mereka
sifatkan. “ (QS. Al-Anbiya: 22)
7. Qudrat
Qudrat adalah berkuasa.
Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia
ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia.
Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah
itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia
dapat hilang atas kuasa Allah swt.
“Sesungguhnya Allah
berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al-Baqarah: 20)
8. Iradat
Iradat berarti
berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas
semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib
seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat
berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga
atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.
“Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107).
9. Ilmu
Ilmu artinya
mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak
terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah.
“Katakanlah (kepada
mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu
(keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada
di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hujurât:
16)
10. Hayat
Sifat Allah Hayat atau
Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang
menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus
selama-lamanya.
“Allah tidak ada
Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah:
255)
11. Sam’un
Sifat Allah Sam’un atau
mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia
berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah
tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.
“Dan Allah-lah yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“
(QS. Al-Maidah : 76)
12. Basar
Basar artinya melihat.
Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan
meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat,
naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah
ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna.
“Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)
13. Kalam
Kalam artinya
berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai
petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
“Dan Allah telah
berbicara kepada Musa dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)
14. Qadirun
Sifat Allah ini berarti
Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas
seluruh makhluk dan ciptaanNya.
“Sesungguhnya Alllah
berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al Baqarah: 20).
15. Muridun
Allah memiliki sifat
Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib
dan takdir manusia.
“Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “ (QS.Hud: 107).
16. ‘Alimun
Sifat Allah ‘Alimun,
yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi
maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran
manusia.
“Dan Alllah Maha
Mengetahui sesuatu. “ (QS. An Nisa’: 176).
17. Hayyun
Allah adalah Dzat Yang
Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
“Dan bertakwalah
kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ (QS. Al Furqon: 58).
18. Sami’un
Allah adalah Dzat Yang
Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa
hambaNya.
“Allah Maha
Mendengar dan Maha Mengetahui. “ (QS. Al Baqoroh: 256).
19. Basirun
Allah adalah Dzat Yang
Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan
manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita
selalu berbuat baik.
“Dan Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Hujurat: 18).
20. Mutakallimun
Sifat Allah ini berarti
Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat
Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan
tunduk terhadap Allah swt.
Sifat yang dimiliki
oleh Allah merupakan zat pribadi-Nya. Tempat titik tujuannya adalah sifat
manusia. Contohnya manusia melihat maka sifat Allah adalah melihat, manusia
mendengar maka sifat Allah adalah melihat, manusia berkata-kata maka sifat
Allah berkata-kata, manusia mempunyai daya maka sifat Allah Berkuasa, manusia
hidup maka sifat Allah adalah hidup namun sifat Allah lebih segalanya dan tidak
bisa dibandingkan dengan manusia.
“barang siapa mengenal
dirinya, ia mengenal Tuhannya”
- Af’al
Af’al Allah adalah
perbuatan Allah. Bahwa segala yang ada di dunia ini termasuk manusia adalah
Af’al (perbuatan) Allah SWT. Adanya bumi, langit, manusia, malaikat, jin,
surga, neraka dan yang lainnya merupakan Af’al Allah yang disediakan oleh Allah
untuk manusia.
Cara musyahadah
(menyaksikan) tauhid af’al yaitu :
Melakukan syuhud
(memandang/menyaksikan) dan menanamkan keyakinan dalam hati bahwa segala
perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua dari Allah.
“Allah yang
menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.”(Q.S ash shoffat : 96)
Perbuatan yang terjadi
digolongkan pada:
1. Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat
2. Buruk pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti
kufur dan maksiat.
Namun perlu digaris
bawahi bahwa tidak akan ada perbuatan buruk pada diri manusia jika manusianya
sendiri tidak melakukan hal yang buruk pada dirinya sendiri
-Rububiyyah
Ialah mempercayai Keesaan Al-Khalik
(Sang Pencipta) saja, tidak cukup meliputi Tauhid yang dibawa oleh para Nabi
pada umumnya, dan Rasulullah khususnya, tetapi dimantapkan dan disebarkan dalam
masyarakat-masyarakat manusia.
-Uluhiyyah
Yaitu dengan mengkhuyukan Allah saja dalam masalah ibadah, dan tidak
menyekutukan-Nya dengan beribadah selain kepada-Nya.
Allah SWT.
berfirman,
وَمَايُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللهِ إِلاَّ وَهُم
مُّشْرِكُونَ
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam
keadaan menyekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain).
Allah SWT.
Berfirman,
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ
مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا
عَظِيمًا
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampun; segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat
dosa yang sangat besar.
Rsulullah bersabda bahwa perbuatan sirik itu merupakan dosa yang berada di
atas dosa-dosa yang yainnya.
“Ingatlah,
aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar,
beliau mengulanginya tiga kali, yaitu : syirik (menyekutukan Allah), menyakiti
kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu.”(H.R Muslim)
II.
Aqidah
yang benar, Khurafat dan Tahayul
-
Aqidah
Aqidah adalah bentuk jamak dari kata Aqaid, merupakan beberapa
perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman
jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.
Aqidah adalahsejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia
berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah.
-
Khurafat
Khurâfat secara bahasa berarti takhayul, dongeng atau legenda Sedangkan
khurâfy adalah hal yang berkenaan dengan takhayul atau dongeng. Khurâfat ialah
semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat
istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari
ajaran Islam.
-
Tahayul
Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar
pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang
bermimpi.
Dari istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul,
yaitu:
1. Kekuatan
ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya,
(seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya
sesuatu yang dapat di indera tersebut dari panca indra kita.
2. Kekuatan
ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu dari
unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu
hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan (kemustahilan). Seperti
kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan cerita-cerita khurafat lainnya.
uä!$uÏ9÷rr& $tB öNèdßç6÷ètR wÎ) !$tRqç/Ìhs)ãÏ9 n<Î) «!$# #s"ø9ã
"Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya"... (QS. Az-Zumar : 3).
III.
Hubungan
Iman dengan Ibadah, Etika/moral dalam segala aspek kehidupan.
1.
Hubungan Iman dengan Ibadah.
Iman adalah sesuatu pondasi yang sangat penting dalam menunjang keislaman
seseorang. Sedangkan ibadah di dalam Islam berarti bakti seorang muslim kepada
Allah SWT dan rasulnya. Jadi ibadah adalah suatu perwujudan bakti kita kepada
sang Khalik (Allah SWT).
Sebagaimana kita ketahui, bahwa iman dan ibadah adalah dua hal yang
tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterikatan yang sangat erat.
Keterkaitan iman dengan ibadah saling menunjang antara satu dengan
yang lainya. Jika salah satu dari kedua hal tersebut dipisahkan, maka akan
terjadi suatu ketidak seimbangan dan akan menimbulkan suatu kerancuan.
Contohnya jika ada seseorang yang memisahkan antara ibadah dengan
imannya, misalnya ia berkata “Saya tidak perlu mengerjakan shalat, puasa, zakat
haji dsb, karena sayakan sudah beriman kepada Allah dan rasulnya, Jadi semua itu
tidak perlu lagi saya kerjakan. Tuhan tidak mungkin menghukum hambanya yang
mencintai serta mengimaninya.
2.
Hubungan Iman dengan Etika/Moral.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral, dan
etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika
dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.
Akhlak merupakan perilaku yang dibangun berbasis hati nurani. Meski
ada yang mengklasifikasikan menjadi akhlak mulia dan akhlak tercela, tapi pada
lazimnya akhlak adalah suatu sebutan bagi perilaku terpuji yang berakar dari
Iman. Menurut Imam Ghazali, akhlak yang mulia mempunyai empat perkara iaitu
bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian
(menundukkan hawa nafsu) dan bersifat adil.
Etika, moral, budi pekerti, meskipun pada dasarnya adalah
kebiasaan, adat-istiadat masyarakat, tapi di kalangan umat beragama, perilaku
yang terbiasa, dapat disesuaikan dan di jiwai oleh akhlak yang di ajarkan
agama. Karena itu banyak kita temui etika, moral, dan budi pekerti yang saling
mengisi dengan ajaran akhlak yang dibimbing oleh agama. Motivasi terpenting dan
terkuat bagi manusia terutama bagi para pelaku moral dan berakhlak adalah
agama.
Secara substansial, etika, moral dan akhlak memang sama, yakni
ajaran tentang kebaikan dan keburukan, menyangkut perikehidupan manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam dalam arti luas. Yang
membedakan satu dengan yang lainnya adalah ukuran kebaikan dan keburukan itu
sendiri. Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang
menjadi ukuran baik dan buruknya itu adalah akal karena memang etika adalah
bagian dari filsafat. Sedangkan akhlak yang secara kebahasaan berarti budi
pekerti, perangai atau disebut juga sikap hidup adalah ajaran yang bicara
tentang baik dan buruk yang ukurannya adalah wahyu Tuhan.
Secara terminologis akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara
yang baik dan yang buruk, terpuji atau tercela, menyangkut perkataan dan
perbuatan manusia lahir batin. Menurut Ibnu Miskawiah, akhlak adalah keadaan
jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Dalam kehidupan manusia ada perbuatan yang dilaksanakan dengan
kehendak dan ada pula perbuatan yang dilaksanakan tanpa kehendak. Perbuatan
yang dilaksanakan dengan kesadaran dan dengan kehendak disebut perbuatan budi
pekerti.
Moral adalah ajaran baik dan buruk yang ukurannya adalah tradisi
yang berlaku di suatu masyarakat. Seseorang di anggap bermoral kalau sikap
hidupnya sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat tempat ia berada, dan
sebaliknya seseorang di anggap tidak bermoral jika sikap hidupnya tidak sesuai
dengan tradisi yang berlaku di masyarakat tersebut. Moral merupakan persoalan
yang praktikal namun tidak semua persoalan praktikal adalah moral. Moral
membicarakan persoalan yang betul atau salah, apa yang perlu dilakukan dan
ditinggalkan atas sebab-sebab tertentu dan dalam keadaan tertentu. Pertimbangan
moral bergantung kepada suasana atau keadaan yang membentuk individu. Misalnya
sistem sosial, kelas sosial dan kepercayaan yang dianuti.
Dan memang menurut ajaran Islam pada asalnya, manusia adalah makhluk
yang bermoral dan etis. Dalam arti mempunyai potensi untuk menjadi makhluk yang
bermoral yang hidupnya penuh dengan nilai-nilai atau norma-norma.
Suci tidaknya hati manusia tergantung mana yang paling dominan
dalam hatinya, jika nafsu syahwaniah dan gadhabiyah yang mendominasi dirinya,
maka yang muncul adalah akhlak yang buruk (akhlak al-mazmumah), tetapi jika
nafsu “al-nafs al-nathiqah” yang mendominasi hatinya, maka akhlak
al-kharimah-lah yang akan muncul dari dirinya.
Betapa penting kedudukan akhlak dalam Islam. Al-Qur’an bukan memuat
ayat-ayat yang secara spesifik berbicara masalah akhlak, malah setiap ayat yang
berbicara hukum sekalipun, dapat dipastikan bahwa ujung ayat tersebut selalu
dikaitkan dengan akhlak atau ajaran moral. Manusia perlu suatu landasan moral
dalam mengelola sumber daya yang ada (manusia dan alam), yaitu dengan
mengedepankan nilai-nilai dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seperti
nilai keadilan, tanggung jawab, cinta kasih dan sebagainya. Bagaimana
nilai-nilai tersebut dapat dilaksanakan adalah tergantung pada pola asuhan atau
sosialisasi yang diterima oleh seseorang.
IV.
Aqidah
pokok yang di sepakati dan Aqidah cabang yang di selisihi.
A.
Akidah Pokok Yang Disepakati.
Akidah umat Islam pada masa Nabi dan masa khalifah Abu Bakar
As-Sidik dan Umar bin Khattab persoalan akidah masih dapat dipertahankan yaitu
disebut Rukun Iman yang mencakup 6 aspek dalam pembahasan ini disebut dengan akidah
Pokok yaitu sebagai berikut :
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-Rasul Allah
5. Iman kepada Hari Kiamat
6. Iman kepada Qada dan Qadar
B. Akidah Cabang Yang Diperselisihkan.
Setelah berakhirnya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab umat
Islam tidak dapat menahan diri dengan apa yang telah dijaga bersama. Kemudian
muncul kemelut yang pada klimaksnya melahirkan peristiwa pembunuhan Khalifah
Usman bin Affan (Tahun 345-656 M) oleh para pemberontak yang sebagian besar
dari Mesir yang tidak puas dengan kebijakan politiknya. Memang secara lahir
nampak peristiwa adalah persualan politik yang berkembang menjadi persoalan
Akidah (Teologi) yang melahirkan berbagai kelompok dan aliran teologi dengan
pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pada masa umat Islam tidak mampu lagi
mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidah, karena masing-masing berusaha
membuka persoalan akidah yang pada masa sebelumnya terkunci. Masing-masing
kelompok membawa keluar persoalan Akidah untuk dilepaskan bersama kelompoknya
sehingga muncul pemahaman versi kelompok tersebut.
Maka lahir cabang-cabang akidah yang pemahaman bervariasi dari
masing-masing aspek rukun iman misalnya rukun iman yang pertama (iman kepada
Allah) muncul perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam membicarakan zat tuhan, sifat
tuhan, dan af’a,al (perbuatan) tuhan. Persoalan yang muncul dalam masalah iman
kepada malaikat separti, apakah iblis termasuk golongan dari mereka.
Dalam mempercayai kitab Allah juga muncul persoalan yang
diikhtilafkan seperti apakah kitab (wahyu) itu malaikat (diciptakan) atau bukan
makhluk sehingga bersifat kekal (qadim). Mereka juga berpendapat mengenai
berapa jumlah Rasul atau Nabi yang pernah diutus oleh Allah kebumi. Persoalan
yang muncul dari keyakinan tentang hari kiamat adalah balasan apakah yang akan
diterapkan kelak pada hari kiamat, jasmani atau hanya rohani saja.
Adapun persoalan yang muncul disekitar masalah rukun iman yang ke
enam (iman kepada takdir) adalah apakah manusia mempunyai kebebasan dalam berbuat
ataukah sebaliknya.[5]
V.
Aqidah-aqidah
pokok dan cabang di sekitar Tuhan, Malaikat, Nabi, kitab Al Qur’an,
Akhirat(hidup sesudah mati), Takdir dan Sunnatullah.
AKIDAH POKOK DAN CABANG
A. Tuhan
Inti pokok ajaran Al-Qur’an adalah Akidah. Sedang inti dari akidah adalah
tauhid yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa. Tidak ada tuhan selain-Nya.
ö@è%
uqèd
ª!$#
îymr&
ÇÊÈ ª!$#
ßyJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9
ô$Î#t
öNs9ur
ôs9qã ÇÌÈ öNs9ur
`ä3t ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr&
ÇÍÈ
Artinya
:
“Katakanlah : “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula
diperanakan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan dia.”
(Q.S.Al-Ikhlas : 1-4
B.
Malaikat.
Iman kepada malaikat mengandung arti bahwa seorang mukmin hendaknya
percaya sepenuhnya bahwa Allah menciptakan sejenis makhluk yang disebut
malaikat.
Malaikat ialah makhluk halus ciptaan Allah yang terbuat dari Nur
(cahaya). Mereka adalah hamba Allah yang mulia dan selalu menuruti
perintah-Nya. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan mereka tidak pernah mendurhakai
kepada Allah dan senantiasa menjalankan tugasnya.
Tugas dan pekerjaan malaikat berbeda-beda mereka dipimpin oleh
sepuluh malaikat yang wajib diketahui yakni :
a.
Jibril,
yaitu yang menjabat pimpinan malaikat dan menyampaikan wahyu.
b.
Mikail
bertugas mengatur kesejahteraan manusia dan semua makhluk.
c.
Izra’il
bertugas mencabut nyawa semua jenis makhluk.
d.
Munkar
dan Nakir bertugas menanyai manusia setelah mati didalam kubur.
e.
Raqib
dan Atid bertugas mencatat semua amal kebaikan dan keburukan manusia.
f.
Israfil
bertugas meniup terompet pada hari kiamat dan hari kebangkitan.
g.
Ridwan
bertugas menjaga surga
h.
Malik
bertugas menjaga neraka
C. Kitab-Kitab/Wahyu.
Beriman kepada kitab Allah ialah mempercayai bahwa Allah menurunkan
beberapa kitab kepada para Rasul untuk menjadikan pedoman hidup manusia dalam
mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.
Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para rasul cukup
banyak, namun yang jelas disebutkan dalam Al-Qur’an hanya empat dan wajib diketahui
oleh orang Islam, yaitu :
- Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s
- Zabur diturunkan kepada Nabi Daud a.s
- Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s
- Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
Permasalahan yang diikhtilafkan dalam persoalan kitab dikalanagan
orang Islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal) atau hadis (baru).
Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Qadim,
bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa
Al-Qur’an adalah tidak qadim karena Al-Qur’an itu diciptakan (makhluk).
C.
Nabi atau Rasul.
Beriman kepada Rasul-Rasul Allah ialah meyakini bahwa Allah telah
memilih beberapa orang diantara manusia, memberikan wahyu kepada mereka dan
menjadikan mereka sebagai utusan (Rasul) untuk membimbing manusia kejalan yang
benar.
Mereka diutus Allah untuk mengajarkan Tauhid, meluruskan aqidak,
membimbing cara beribadah dan memperbaiki akhlak manusia yang rusak. Beiman
kepada Rasul cukup secara global (Ijmal) dan yang wajib diketahui ada 25 Rasul,
Yaitu :
1.
Nabi Adam a.s
2. Nabi Idris a.s
3. Nabi Nuh a.s
4. Nabi Hud a.s
5. Nabi Shaleh a.s
6. Nabi Ibrahim a.s
7. Nabi Luth a.s
8. Nabi Ismail a.s
9. Nabi Ishaq a.s
10. Nabi Ya’qub a.s
11. Nabi Yusuf a.s
12. Nabi Ayub a.s
13. Nabi Syu’aib a.s
14. Nabi Musa a.s
15. Nabi Harun a.s
16. Nabi Zulkifli a.s
17. Nabi Daud a.s
18. Nabi Sulaiman a.s
19. Nabi Ilyas a.s
20. Nabi Ilyasa’ a.s
21. Nabi Yunus a.s
22. Nabi Zakaria a.s
23. Nabi Yahya a.s
24. Nabi Isa a.s
25. Nabi Muhammad SAW
Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman
kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlah. Hanya Allah yang mengetahui
jumlahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000
orang. Dari sejumlah itu yang diangkat menjadi Rasul ada 313 orang.
D.
Hari Akhirat ( Hidup Sesudah Mati )
Hari kiamat (Hari Akhirat) ialah kehancuran alam semesta segala
yang ada didunia ini akan musnah dan semua makhluk hidup akan mati, selanjutnya
akan berganti dengan yang baru yang disebut Alam Akhirat. Iman kepada hari
kiamat berarti mempercayai akan adanya hari tersebut dan kehidupan sesudah mati
serta beberap hal yang berhubungan dengan hari kiamat. Seperti kebangkitan dari
kubur, Hisab (Perhitungan Amal), Sirat (Jembatan yang terbentang diatas
punggung neraka), Surga dan Neraka.
Kapan hari kiamat akan datang, tidak seorangpun yang tahu dan hanya
Allah saja yang mengetahui. Manusia hanya diberi tahu melalui tanda-tandanya
sebelum hari kiamat tiba. Para ulama telah sepakat dalam masalah adanya hari
kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya hanya saja mereka Ikhtilaf tentang
apa yang akan dibangkitkan. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dibangkitkan
meliputi jasmani dan rohani. ini dikeluarkan oleh golongan Ahlus Sunah Wal
Jamaah. Adapun pendapat kedua yang dibangkitkan adalah rohnya saja.
E.
Takdir atau Sunatullah.
Beriman kepada takdir artinya seseorang mempercayai dan meyakini
bahwa Allah SWT. Tidak menjadikan segala makhluk dengan Kudrat dan Iradat-Nya
dan dengan segala hikmah-Nya.
Artinya :“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut
ukurannya.” (Q.S.Al-Qamar : 49)
Beriman kepada takdir bagi setiap orang muslim bukan dimaksudkan
untuk menjadikan manusia lemah, pasif, statis atau menyerah tanpa usaha. Bahkan
dengan beriman kepada takdir mengharuskna manusia untuk bangkit dan berusaha
keras demi mencapai takdir yang sesuai kehendak yang diinginkan.[6]
Firman Allah SWT :
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S.Ar-Rad : 11 )
VI.
Sejarah
munculnya persoalan Teologi dalam Islam
- TEOLOGI DALAM ISLAM.
Ketika Nabi Muhammad Saw. Mulai menyiarkan agam ajaran-ajaran Islam
yang beliau terima dari Allah SWT di Mekkah, kota ini mempunyai sistem
kemasyarakatan yang terletak di bawah pimpinan suku bangsa Quraiy.
Dipertengahan ke dua dari abad ke-enam Masehi, jalan dagang Timur – Barat berpindah dari Teluk Persia – Euphrat di Utara dan Laut Merah – Perlembahan Neil di selatan, ke Yaman – Hijaz – Syria.
Dipertengahan ke dua dari abad ke-enam Masehi, jalan dagang Timur – Barat berpindah dari Teluk Persia – Euphrat di Utara dan Laut Merah – Perlembahan Neil di selatan, ke Yaman – Hijaz – Syria.
Peperangan yang senantiasa terjadi antara kerajaan Byzantin dan
Persia membuat jalan Utara tak selamat dan tak menguntungkan bagi dagang.
Mesir, mungkin juga sebagai akibat dari peperangan Byzantin dan Persia, berada
dalam kekacauan yang mengakibatkan perjalanan dagang melalui Perlembahan Neil
tidak menguntungkan pula.
Dengan pindahnya perjalanan dagang Timur – Barat ke Semenanjung
Arabia, mekkah yang terletak di tengah – tengah garis perjalanan itu, menjadi
kota dagang. Pedagang – pedagangnya pergi ke Selatan membeli barang – barang
yang dating dari Timur, yang kemudian mereka bawa ke Utara untuk dijual di
Syria.
Dari pedagang transit ini, Mekkah menjadi kaya. Perdagangan ini
dipegang oleh Quraisy dan orang-orang yang berada dan berpengaruh dalam
masyarakat pemerintah mekkah juga terletak di tengah-tengah mereka. Pemerintah
dijalankan melalui majlis suku bangsa yang anggota-anggotanya tersusun dari
kepala suku yang dipilih menurut kekayaan dan pengaruh mereka dalam masyarakat.
Kekuasaan sebenarnya terletak dalam tangan kaum pedagang tinggi.
Kaum pedagang tinggi ini, untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka,
mempunyai perasaan solidaritas kuat yang kelihatan efeknya dalam perlawanan
mereka terhadap nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dan pengikut-pengikutnya
terpaksa meninggalkan Mekkah pergi ke Yasrib di th.622-M. Sebagai mana
diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw termasuk orang yang ekonominya sederhana.
Suasana di Yasrib beda dengan kota Mekkah. Kota ini bukan kota
pedagang tetapi kota petani. Masyarakatnya tidak homogeen, tetapi terdiri dari
orang Arab, dan bangsa Yahudi.
-
Pandangan-Pandangan
Teologis Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dan
Maturidiyah
1. Masalah status dan pelaku dosa besar.
Pertama, aliran
Khawarij berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir. Artinya
keluar dari islam (murtad), karena itu ia wajib dibunuh.
Kedua, aliran Murji’ah menegaskan
bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin, bukan kafir. Adapun dosa
yang dilakukannya terserah kepada Allah untuk diampuni atau tidak.
Ketiga, aliran Mu’tazilah, kaum ini
tidak setuju dengan pendapat-pendapat di atas. Bagi orang yang berdosa besar bukan
kafir tetapi juga bukan mukmin. Orang yang melakukan dosa besar mengambil
posisi antara mukmin dan kafir. Hal ini dikenal dengan paham/istilah Manzilah
baina al Manzilataini.
Keempat, aliran Asy’ariyah tidak
mengafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar selama ia masih sujud ke
Baitullah. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukan dengan anggapan bahwa hal
ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, maka ia dipandang
kafir. Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar hal itu
bergantung pada kebijakan Tuhan yang maha berkehendak.
Kelima, aliran Maturidiyah menyatakan
bahwa pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena adanya keimanan dalam
dirinya. Adapun balasan yang diperoleh di akhirat bergantung pada apa yang
dilakukannya di dunia.
2. Masalah perbuatan manusia dalam kaitanya dengan
perbuatan Tuhan.
Pertama, aliran Jabariyah yang dalam
persoalan tersebut memahami bahwa manusia tidak berkuasa atas perbuatannya.
Hanya Allah sajalah yang menentukan dan memutuskan segala amal perbuatan
manusia. Semua amal perbuatan itu adalah atas Qudrat dan Iradat-Nya. Manusia
tidak mencampuri sama sekali.
Dalam paham Jabariyah, perbuatan
manusia dalam hubungannya dengan tuhan sering digambarkan bagai bulu ayam yang
diikat dengan tali yang digantungkan di udara. Kemana angin bertiup kesanalah
bulu ayam itu terbang. Ia tidak mampu menentukan dirinya sendiri, tetapi
terserah angin. Apabila perbuatan manusia diumpamakan sebagai bulu ayam,
maka angin itu adalah Tuhan yang menentukan ke arah mana dan bagaimana
perbuatan manusia itu dilakukan. Kadang-kadang manusia diumpamakan pula seperti
wayang yang tidak berdaya. Bagaimana dan ke mana ia bergerak terserah dalang
yang memainkan wayang itu. Dalang bagi manusia adalah Tuhan.
Kedua, aliran Qadariyah sering juga
diidentikkan dengan aliran Mu’tazilah. Aliran Qadariyah memahami bahwa manusia
itu bebas memilih atas perbuatannya (kholiqul af-al). Mereka berpendapat
bahwa kemauan manusia itu bebas, dan itu berarti bahwa manusia itu bebas untuk
berbuat atau tidak berbuat, sehingga manusia bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap perbuatannya, manusia berhak menerima pujian dan pahala atas
perbuatannya yang baik dan menerima celaan dan hukuman atas perbuatannya yang
salah atau dosa.
Dari uraian singkat di atas, maka
terlihat bahwa menurut paham Qadariyah, Tuhan tidak ikut campur tangan
dalam perbuatan manusia. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan itu. Jika
perbuatan manusia diciptakan Tuhan seluruhnya, maka taklif tidak ada
artinya. Pahala dan siksa tidak berguna karena perbuatan itu dikerjakan bukan
dengan kehendak dan kemauan sendiri.
Ketiga, aliran Asy’ariyah yang dalam
persoalan ini lebih dekat dengan paham Jabariyah daripada kepada paham Mu’tazilah.
Untuk menggambarkan pahamnya mengenai perbuatan manusia dalam kaitannya dengan
perbuatan Tuhan, Asy’ary menggunakan teori Al-Kasb
3. Masalah sifat sifat Tuhan.
Pertama, aliran Mu’tazilah yang
memahami dan membahas persoalan ini dengan berpendapat bahwa Tuhan tidak
mempunyai sifat. Mereka berargumen jika Tuhan mempunyai sifat, sifat itu mesti
kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Namun jika demikian maka yang bersifat
kekal bukanlah satu lagi, tetapi banyak. Jika Tuhan itu mempunyai sifat-sifat
maka akan menyebabkan paham banyak yang kekal (Ta’aduddul qudama) yang
selanjutnya melahirkan paham syirik atau polytheisme sebagai
sesuatu yang tidak mendapat tempat di dalam teologi islam.
Jadi menurut Mu’tazilah Tuhan itu
Esa, tidak mempunyai sifat-sifat sebagaimana pendapat golongan lain. Apa yang
dipandang sebagai sifat dalam pendapat golongan, bagi Mu’tazilah tidak lain
adalah zat Allah sendiri.
Kedua, aliran Asy’ariyah yang
membahas persoalan sifat-sifat Tuhan dengan mengambil sikap yang berlawanan
dengan pendapat golongan Mu’tazilah. Aliran Asy’ariyah dengan tegas mengatakan
bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mereka pula mengatakan bahwa Tuhan mengetahui,
menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan
dan daya.
Ketiga, aliran Maturidiyah yang dalam
hal ini berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Sifat-sifat Tuhan kekal
melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui
sifat-sifat itu sendiri. Maka selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama
sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.
VII.
Mahzab(Aliran)
dalam ilmu kalam
1. Jabariyah
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara
yaitu memaksa. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatanya dalam
keadaan terpaksa. Memang dalam
faham ini manusia mengerjakan perbuatan-perbuatannya dengan keadaan terpaksa.
Dalam istilah Inggris disebut dengan fatalism atau predestionation.
Perbuatan perbuatan manusia telah ditentukan
oleh qada’ dan qodar Tuhan. Masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya
dipengaruhi oleh faham jabariah ini, sehingga pada saat itu orang Arab
kehidupannya bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, dan harus
menyesuaikan diri dengan suasana padang pasir,dengan panasnya yang terik serta
tanah dan gunungnya yang gundul.
Dalam dunia
yang demikian mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan
sekelilingnya sebab dirinya merasa lamah dan tak berkuasa dalam menghadapi
kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka
bergantung pada kehendak nature. Hal ini membawa mereka pada sikap fatalistis
2. Qodariyah
Qodariyah
berasal dari bahasa Arab, yaitu qodara yang artinya kemampuan dan
kekuatan. Secara terminologi Qodariyah adalah suatu aliran yang
percaya bahwa segala tindakan manusia tidak di ikut campuri oleh Tuhan.
Pendapat kaum Qodariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan
kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dalam artian menurut faham
Qodariah manusia mempunyai kemerdekaan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan
perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian nama Qodariah berasal dari pengertian
bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya,
dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar
Tuhan .
3. Murji’ah
Nama murji’ah di ambil dari kata irja’a yang bermakna penundaan,
penangguhan, dan pengharapan. Dan berarti juga memberi harapan, yakni
memberi harapan kepada pelaku dossa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.
kaum Murji’ah pada mulanya juga ditimbulkan oleh
persoalan-persoalan politik, tegasnya persoalan khalifah yang membawa
perpecahan dikalangan ummat Islam setelah ‘Utsman Ibnu Affan mati terbunuh.
Pada mulanya kaum Murji’ah pendukung daripada kaum khawarij akan tetapi
berbalik menjadi musuh besar mereka. Karena adanya perlawanan ini, pendukung
yang masih tetap setia padanya semakin bertambah keras dan kuat membelanya dan
akhirnya mereka merupakan satu golongan lain dalam Islam yang dikenal dengan
nama Syi’ah. Kefanatikan golongan ini terhadap ‘Ali bertambah keras, setelah ia
sendiri mati terbunuh pula. Diantara kaum Khawarij dan Syi’ah menjadi dua
golongan yang saling bermusuhan.
4. Khowarij
Khowarij berasal dari bahasa Arab, yaitu
khoroja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak, disebut
khowarij orang yang memberontak imam yang sah dan setiap muslim yang ingin
keluar dari kesatuan umat islam.
Kaum khawarij
terdiri ata pengikut-pengikut ‘Ali Ibnu Talib yang meninggalkan barisannya,
karena tidak setuju dengan sikap ‘Ali Ibnu Talib dalam menerima arbritase
sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tenteng khalifah dengan
Mu’awiyah Ibnu Sufyan. Nama khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti
keluar. Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari barisan
‘Ali. Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pemberian nama itu
didasarkan atas ayat 100 dari surat An-nisa’, yang dalamnya disebutkan : ” ke
luar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul Nya”.
Dengan demikian
kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dari
kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul Nya.
5. Syiah
Syi’ah
secara bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok,
sedangkan secara istilah adalah sebagian kaum muslimyang dalam bidang
spritual dan keagamanya selalu berujuk pada keturunan nabi Muhammad SAW, atau
orang yang disebut sebagai ahl al-bait.
6. Mu’tazila
Mu’tazila berasal dari i’tazala yang
berarti berpisah, atau memisahkan diri. Aliran ini lah yang berpendapat
bahwa “orang yang berbuat dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir,
tetapi berada pada posisi keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.
Kaum mu’tazilah
adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam
dan bersifat filosofisdaripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij
dan Murji’ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka
mendapat nama ” kaum rasionalis Islam “.
Berbagai
analisa yang dimajukan tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada mereka. Uraian
yang biasa disebut buku-buku ‘ilmu al-Kalam berpusat pada peristiwa yang
terjadi antara Wasil Ibnu ‘Ata’ serta temannya ‘Amr Ibnu ‘Ubaid dan Hasan
al-Basri di Basrah. Wasil selalu mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan
Hasan al-Basri di mesjid Basrah. Pada suatu hari dating seorang bertanya
mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar. Sebagai diketahui kaum
Khawarij memandang mereka kafir, sedangkam kaum Murji’ah memandang mereka
mukmin. Ketika Hasan al-Basri berfikir, Wasil mengeluarkan pendapatnya sendiri
dengan mengatakan :
“Saya
berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mkmin dan bukan pula kafi,
tetapi mengambil posisi tengah-tengah. Kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri
dari Hasan al-Basri pergi ketempat lain di masjid, disana ia mengulangi
pendapatnya. Atas peristiwa ini Hasan al-Basri mengatakan : “Wasil menjauhkan
diri dari kita (I’tazala’anna)”. Dengan demikian ia serta teman-temannya, kata
al-Syahrastani, disebut kaum Mu’tazilah.
7. Ahli sunnah wal Jama’ah
Ahli Sunnah dan jama’ah ini kelihatannya timbul sebagai reaksi
terhadap faham-faham golongan Mu’tazilah yang telah dijelaskan sebelumnya dan
terdapat sikap mereka dalam menyiarkan ajaran-ajaran itu. Mulai dari wasil
usaha-usaha mereka telah dijalankan untuk menyebarkan ajaran-ajaran itu,
disamping usaha-usaha yang dijalankan dalam menentang serangan musuh-musuh
Islam.[7]
DAFTAR
PUSTAKA
stai-kuliahku.blogspot.com/.../sejarah-timbulnya-persoalan-persoalan.html
Drs. H. Muhidin, SH, M.H, 2006. Risalah Tauhid Dalam Ilmu Kalam.
Kuala Kapuas
Syaikh Abu Bakar Al- Jazairi, 1995. Aqidah Mukmin. Madina: Maktabah
Al- Ulum Wal Hikam
Rosihan Anwar, 2009. ilmu kalam untuk uin , stain , ptais. Bandung:
Cv. Pustaka Setia
Drs. H. Komaruddin, 2007. Sahar.Ilmu Kalam. Palembang: IAIN Raden Fatah Press
Nasution, Harun, 1992. Tiologi Islam. Jakarta: Djambata
Murtdha Muthahhari, 2002. Mengenal Ilmu Kalam. Jakarta: Pustaka Zahra
[2] Nasution,
Harun. Tiologi Islam. ( Jakarta: Djambata, 1992)
[5]
Syaikh Abu
Bakar Al- Jazairi, Aqidah Mukmin. (Maktabah Al- Ulum Wal Hikam: Madinah.
1995)
[6] Drs. H.
Muhidin, SH, M.H. Risalah Tauhid Dalam Ilmu Kalam. (Kuala Kapuas. 2006)
[7] stai-kuliahku.blogspot.com/.../sejarah-timbulnya-persoalan-persoalan.html