Selasa, 18 Juni 2013

ilmu kalam


ILMU KALAM
I. PENDAHULUAN
Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan (agama islam) dengan bukti-bukti yang yakin. Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas soal-soal keimanan yang sering juga disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin.
Dan Ilmu kalam juga adalah disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam menerangkan bahwa Allah bersifat Sama’, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat, dan sebagainya.
1. Materi Kajian Ilmu Kalam
            Ilmu kalam adalah ilmu yang memfokuskan bahasanya mmengenai Allah SWT. Karena itu disebut juga Teologi islam.
Nama lain dari Ilmu Kalam : Ilmu Aqaid (ilmu akidah-akidah), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha Esa-an Tuhan), Ilmu Ushuluddin (Ilmu pokok-pokok agama). Disebut juga 'Teologi Islam'. 'Theos' Tuhan; 'Logos' ilmu. Berarti ilmu tentang ke Tuhanan yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ajaran Islam, termasuk di dalamnya persoalan-persoalan ghaib.


Menurut Ibnu Kholdun dalam kitab moqodimah mengatakan ilmu kalam adalah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-keprcayaan iman dengan menggunakan dalil fikiran dan juga berisi tentang bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang mempunyai kepercayaan-kepercayaan menyimpang. Ilmu= pengetahuan, Kalam= pembicaraan', pengetahuan tentang pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan Persoalan terpenting yang di bicarakan pada awal Islam adalah tentang Kalam Allah (Al-Qur'an).
Dasar Ajarannya, Dasar Ilmu Kalam adalah dalil-dalil fikiran (dalil aqli) Dalil Naqli (Al-Qur'an dan Hadis) baru dipakai sesudah ditetapkan kebenaran persolan menurut akal fikiran. (Persoalan kafir-bukan kafir).

2. Sebab-sebab penamaan Ilmu kalam, Tauhid, Ushuludin, Teologi Islam
- Ilmu Kalam
            Pembicaraan tentang Tuhan dibahas dengan logika tetapi pembicaraan yang menggunakan dalil-dalil dan berlanjut pada masalah sifat kalam bagi Allah, seperti persoalan; apakah Al-Quran itu baharu atau qodim.
Menurut Syeh Muhammad Abduh; ada 3 sebab dinamakan ilmu kalam.
1.      Persoalan qodim nya kalamullah
2.      Penggunaan dalil aqli sebegitu rupa, sehingga sedikit menggunakan dalil naqli(Quran Hadits)
3.      Penggunaan metode argumentasi menyerupai ilmu mantiq atau logika

“sebutan ilmu kalam pertama kali digunakan di masa daula abasiyah 300 H.[1]



- Tauhid
            Karena masalah keesan Allah, sebab satu bagian darimasalah aqidah. Dan ulama tauhid mempermulasikan keyakinan bahwa Allah itu Esa/tidak ada sekutu baginya.

- Ushuludin
            Karena pokok-pokok agama yang terfokus pada tauhid atau keyakinan bahwa Allah itu Esa, Zat, Sifat, dan Af’al.
- Teologi Islam
            Karena teologi mempelajari tentang zat tuhan dari segala seginya dan pertalian tuhan dengan alam semesta. Karena terlalu luas teologi, maka dibatasi dengan sifatnya yaitu teologi islam, teologi kristen, hindu dll.
            Disebut teologi islam, karena penelitianya sama dengan ilmu kalam yaitu bidang kajianya sama.[2]
3. Hubungan Ilmu kalam dan Ilmu Dakwa
1.      Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan persoalan kalam Tuhan dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional/aqliyah (berpikir filosofis) maupun naqliyah (dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits). Ilmu kalam atau ushuluddin atau aqidah atau teologi membahas masalah ketuhanan dan kewajiban manusia terhadap tuhan, tentang keimanan, serta kufur dengan menggunakan argumentasi logika.


2.      Pengertian Dakwah islam
Menurut kamus besar bahasa  dakwah adalah panggilan, ajakan, seruan. Menurut Syaikh Ali Makhfudh dakwah mendorong manusia dan menyeru mereka kepada kebajikan dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar.
·         Hubungan Ilmu Kalam Dengan Dakwah Islam.
 Menurut Toha Yahya Oemar Ilmu kalam sangat berkaitan erat dengan dakwah islam karena dakwah islamiyah mengajak umat manusia kejalan yang benar sesuai syari’at islam dengan disertai metode penyampaian dakwah islam dengan baik dan benar sehingga umat manusia mampu menerima penyampaian dakwah kita.[3]
           
I.            Beberapa Pengertian Dasar
1 .Iman, Kufur, dan Nifak
-Iman.
Menurut Hasan Hanafi, ada empat istilah kunci yang biasanya digunakan oleh para teolog muslim dalam membicarakan konsep iman, yaitu :
a. Marifah bi al-aql, (mengetahui dengan akal)
b. Amal, perbuatan baik dan patuh
c. Iqrar, pengakuan secara lisan, dan
d. Tashdiq, membenarkan dengan hati, termasuk pula di dalamnya Marifah bi al-aql, (mengetahui dengan akal)
Keempat istilah kunci tersebut misalnya terdapat dalam hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Syahid Al-Khudri :
“Barang siapa di antara kalian yang melihat (ma’rifah) kemungkaran, hendaklah mengambil tindakan secara fisik. Jika engkau tidak berkuasa, maka lakukanlah dengan ucapanmu. Jika itu pun tidak mampu, lakukanlah dengan kalbumu.(akan tetapi yang terakhir) ini merupakan iman yang paling lemah.”
-Kufur.
                        Kufur adalah lawan iman yang artinya menutup mata  hati/tidak percaya kepada Allah SWT.
            Macam-macam kafir:
1.      Kafir munafik, yaitu tidak beriman tetapi mengaku beriman.
2.      Kafir murtad, yaitu kafir yang masuk islam lalu kembali kekafir lagi.
3.      Kafir musyrik, mempercayai tuhan lebih dari satu.
4.      Kafir kitabi, ahli kitab Yahudi dan Nasroni yang beriman kepada kitab Allah sebelum Al-quran datang, setelah Al-quran datang mereka tidak mengimani al-quran sebagai kitab Allah.
5.      Kafir mu’athil, yaitu tidak percaya adanya Tuhan. Segala yang ada ini terjadi sendirinya.
6.      Kafir zindiq, yaitu pura-pura beriman, mengakui kerasulan Muhammad, serta menzhoirkan kepercayaan dan mengerjakan pokok-pokok islam, tetapi menyembunyikan keinginanya untuk menentang dan merusak islam.
-Nifaq.
Secara bahasa, nifaq berarti lobang tempat keluarnya yarbu(binatang sejenis tikus)dari sarangnya, dimana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah tempat bersembunyi.
Adapun nifaq menurut syara’ artinya : menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.


2. Tauhid Zat, sifat, Af’al, Rububiyah, Uluhiyyah, syirik
- Tauhid (dzat)
Ialah bahwa Allah SWT itu Esa, tidak ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada yang sepadan bagi-Nya. Lebih dari itu, mustahil ada yang mampu menyaingi-Nya, atau menyamai-Nya. Pengkhususan Allah dan keesaan-Nya dalam penciptaan, memberi rezki, mengatur semua makhluk dan malaikat.[4]
Firman Allah SWT,
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ اْلأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yabg Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”


- Sifat
Sebagai Sang Khalik, Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Mengenal sifat-sifat Allah dapat meningkatkan keimanan kita. Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20.
1. Wujud
Sifat Allah yang pertama yaitu Wujud. Wujud artinya ada. Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karena Allah yang menciptakannya.
Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.“ (QS. Al-A’raf: 54)
2. Qidam
Qidam berarti dahulu atau awal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih dulu ada dari pada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan.
Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al-Hadid: 3)
3. Baqa’
Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Kita akan kembali kepadaNya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal.
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “ (QS. Ar-Rahman: 26-27)

4. Mukhalafatu lil hawadits
Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaanNya. Itulah keistimewaan dan Keagungan Allah swt.
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “ (QS. Asy-Syura: 11)
5. Qiyamuhu binafsihi
Sifat Allah selanjutnya yaitu Qiyamuhu binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri. Allah menciptakan alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun.
Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. “ (QS. Ali-Imran: 2)
6. Wahdaniyyah
Sifat Allah Wahdaniyyah yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah.
Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan. “ (QS. Al-Anbiya: 22)
7. Qudrat
Qudrat adalah berkuasa. Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas kuasa Allah swt.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al-Baqarah: 20)
8. Iradat
Iradat berarti berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107).
9. Ilmu
Ilmu artinya mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah.
Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”  (QS. Al-Hujurât: 16)
10. Hayat
Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya.
Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)
11. Sam’un
Sifat Allah Sam’un atau mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna.
Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“
(QS. Al-Maidah : 76)
12. Basar
Basar artinya melihat. Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna.
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Hujurat: 18)


13. Kalam
Kalam artinya berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “ (QS. An-Nisa: 164)
14. Qadirun
Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya.
Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu. “ (QS. Al Baqarah: 20).
15. Muridun
Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “ (QS.Hud: 107).
16. ‘Alimun
Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu. “ (QS. An Nisa’: 176).
17. Hayyun
Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “ (QS. Al Furqon: 58).
18. Sami’un
Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.
Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. “ (QS. Al Baqoroh: 256).



19. Basirun
Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al Hujurat: 18).
20. Mutakallimun
Sifat Allah ini berarti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah swt.
Sifat yang dimiliki oleh Allah merupakan zat pribadi-Nya. Tempat titik tujuannya adalah sifat manusia. Contohnya manusia melihat maka sifat Allah adalah melihat, manusia mendengar maka sifat Allah adalah melihat, manusia berkata-kata maka sifat Allah berkata-kata, manusia mempunyai daya maka sifat Allah Berkuasa, manusia hidup maka sifat Allah adalah hidup namun sifat Allah lebih segalanya dan tidak bisa dibandingkan dengan manusia.
“barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya”
- Af’al
Af’al Allah adalah perbuatan Allah. Bahwa segala yang ada di dunia ini termasuk manusia adalah Af’al (perbuatan) Allah SWT. Adanya bumi, langit, manusia, malaikat, jin, surga, neraka dan yang lainnya merupakan Af’al Allah yang disediakan oleh Allah untuk manusia.  

Cara musyahadah (menyaksikan) tauhid af’al yaitu :
Melakukan syuhud (memandang/menyaksikan) dan menanamkan keyakinan dalam hati bahwa segala perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua dari Allah.
Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.”(Q.S ash shoffat : 96)



Perbuatan yang terjadi digolongkan pada:
1.      Baik pada bentuk (rupa) dan isi (hakekatnya) seperti iman dan taat
2.      Buruk pada bentuk (rupa) namun baik pada pengertian isi (hakekat) seperti kufur dan maksiat.
Namun perlu digaris bawahi bahwa tidak akan ada perbuatan buruk pada diri manusia jika manusianya sendiri tidak melakukan hal yang buruk pada dirinya sendiri
-Rububiyyah
Ialah mempercayai Keesaan Al-Khalik (Sang Pencipta) saja, tidak cukup meliputi Tauhid yang dibawa oleh para Nabi pada umumnya, dan Rasulullah khususnya, tetapi dimantapkan dan disebarkan dalam masyarakat-masyarakat manusia.
-Uluhiyyah
Yaitu dengan mengkhuyukan Allah saja dalam masalah ibadah, dan tidak menyekutukan-Nya dengan beribadah selain kepada-Nya.
Allah SWT. berfirman,
وَمَايُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ
“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain).
-Syirik
Syirik: menyekutukan Allah dengan yang lain.
Allah SWT. Berfirman,
إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampun; segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang sangat besar.
Rsulullah bersabda bahwa perbuatan sirik itu merupakan dosa yang berada di atas dosa-dosa yang yainnya.
“Ingatlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar, beliau mengulanginya tiga kali, yaitu : syirik (menyekutukan Allah), menyakiti kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu.”(H.R Muslim)
II.            Aqidah yang benar, Khurafat dan Tahayul
-          Aqidah
Aqidah adalah bentuk jamak dari kata Aqaid, merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Aqidah adalahsejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah.
-          Khurafat
Khurâfat secara bahasa berarti takhayul, dongeng atau legenda Sedangkan khurâfy adalah hal yang berkenaan dengan takhayul atau dongeng. Khurâfat ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam.
-          Tahayul
Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi.
Dari istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul, yaitu:

1.      Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang dapat di indera tersebut dari panca indra kita.
2.      Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan (kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan cerita-cerita khurafat lainnya.
uä!$uŠÏ9÷rr& $tB öNèdßç6÷ètR žwÎ) !$tRqç/Ìhs)ãÏ9 n<Î) «!$# #s"ø9ã
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"... (QS. Az-Zumar : 3).

III.            Hubungan Iman dengan Ibadah, Etika/moral dalam segala aspek kehidupan.

1.      Hubungan Iman dengan Ibadah.
Iman adalah sesuatu pondasi yang sangat penting dalam menunjang keislaman seseorang. Sedangkan ibadah di dalam Islam berarti bakti seorang muslim kepada Allah SWT dan rasulnya. Jadi ibadah adalah suatu perwujudan bakti kita kepada sang Khalik (Allah SWT).
Sebagaimana kita ketahui, bahwa iman dan ibadah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya memiliki keterikatan yang sangat erat.
Keterkaitan iman dengan ibadah saling menunjang antara satu dengan yang lainya. Jika salah satu dari kedua hal tersebut dipisahkan, maka akan terjadi suatu ketidak seimbangan dan akan menimbulkan suatu kerancuan.
Contohnya jika ada seseorang yang memisahkan antara ibadah dengan imannya, misalnya ia berkata “Saya tidak perlu mengerjakan shalat, puasa, zakat haji dsb, karena sayakan sudah beriman kepada Allah dan rasulnya, Jadi semua itu tidak perlu lagi saya kerjakan. Tuhan tidak mungkin menghukum hambanya yang mencintai serta mengimaninya.
2.      Hubungan Iman dengan Etika/Moral.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kata akhlak, moral, dan etika yang ketiganya merupakan tingkah laku manusia, hampir sama, namun jika dilihat dari sumbernya, ketiga kata tersebut akan berbeda.
Akhlak merupakan perilaku yang dibangun berbasis hati nurani. Meski ada yang mengklasifikasikan menjadi akhlak mulia dan akhlak tercela, tapi pada lazimnya akhlak adalah suatu sebutan bagi perilaku terpuji yang berakar dari Iman. Menurut Imam Ghazali, akhlak yang mulia mempunyai empat perkara iaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan hawa nafsu) dan bersifat adil.
Etika, moral, budi pekerti, meskipun pada dasarnya adalah kebiasaan, adat-istiadat masyarakat, tapi di kalangan umat beragama, perilaku yang terbiasa, dapat disesuaikan dan di jiwai oleh akhlak yang di ajarkan agama. Karena itu banyak kita temui etika, moral, dan budi pekerti yang saling mengisi dengan ajaran akhlak yang dibimbing oleh agama. Motivasi terpenting dan terkuat bagi manusia terutama bagi para pelaku moral dan berakhlak adalah agama.


Secara substansial, etika, moral dan akhlak memang sama, yakni ajaran tentang kebaikan dan keburukan, menyangkut perikehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam dalam arti luas. Yang membedakan satu dengan yang lainnya adalah ukuran kebaikan dan keburukan itu sendiri. Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang menjadi ukuran baik dan buruknya itu adalah akal karena memang etika adalah bagian dari filsafat. Sedangkan akhlak yang secara kebahasaan berarti budi pekerti, perangai atau disebut juga sikap hidup adalah ajaran yang bicara tentang baik dan buruk yang ukurannya adalah wahyu Tuhan.
Secara terminologis akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan yang buruk, terpuji atau tercela, menyangkut perkataan dan perbuatan manusia lahir batin. Menurut Ibnu Miskawiah, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Dalam kehidupan manusia ada perbuatan yang dilaksanakan dengan kehendak dan ada pula perbuatan yang dilaksanakan tanpa kehendak. Perbuatan yang dilaksanakan dengan kesadaran dan dengan kehendak disebut perbuatan budi pekerti.
Moral adalah ajaran baik dan buruk yang ukurannya adalah tradisi yang berlaku di suatu masyarakat. Seseorang di anggap bermoral kalau sikap hidupnya sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat tempat ia berada, dan sebaliknya seseorang di anggap tidak bermoral jika sikap hidupnya tidak sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat tersebut. Moral merupakan persoalan yang praktikal namun tidak semua persoalan praktikal adalah moral. Moral membicarakan persoalan yang betul atau salah, apa yang perlu dilakukan dan ditinggalkan atas sebab-sebab tertentu dan dalam keadaan tertentu. Pertimbangan moral bergantung kepada suasana atau keadaan yang membentuk individu. Misalnya sistem sosial, kelas sosial dan kepercayaan yang dianuti.
Dan memang menurut ajaran Islam pada asalnya, manusia adalah makhluk yang bermoral dan etis. Dalam arti mempunyai potensi untuk menjadi makhluk yang bermoral yang hidupnya penuh dengan nilai-nilai atau norma-norma.
Suci tidaknya hati manusia tergantung mana yang paling dominan dalam hatinya, jika nafsu syahwaniah dan gadhabiyah yang mendominasi dirinya, maka yang muncul adalah akhlak yang buruk (akhlak al-mazmumah), tetapi jika nafsu “al-nafs al-nathiqah” yang mendominasi hatinya, maka akhlak al-kharimah-lah yang akan muncul dari dirinya.
Betapa penting kedudukan akhlak dalam Islam. Al-Qur’an bukan memuat ayat-ayat yang secara spesifik berbicara masalah akhlak, malah setiap ayat yang berbicara hukum sekalipun, dapat dipastikan bahwa ujung ayat tersebut selalu dikaitkan dengan akhlak atau ajaran moral. Manusia perlu suatu landasan moral dalam mengelola sumber daya yang ada (manusia dan alam), yaitu dengan mengedepankan nilai-nilai dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seperti nilai keadilan, tanggung jawab, cinta kasih dan sebagainya. Bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dilaksanakan adalah tergantung pada pola asuhan atau sosialisasi yang diterima oleh seseorang.

IV.            Aqidah pokok yang di sepakati dan Aqidah cabang yang di selisihi.

A.    Akidah Pokok Yang Disepakati.
Akidah umat Islam pada masa Nabi dan masa khalifah Abu Bakar As-Sidik dan Umar bin Khattab persoalan akidah masih dapat dipertahankan yaitu disebut Rukun Iman yang mencakup 6 aspek dalam pembahasan ini disebut dengan akidah Pokok yaitu sebagai berikut :
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-Rasul Allah
5. Iman kepada Hari Kiamat
6. Iman kepada Qada dan Qadar
B. Akidah Cabang Yang Diperselisihkan.
Setelah berakhirnya kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab umat Islam tidak dapat menahan diri dengan apa yang telah dijaga bersama. Kemudian muncul kemelut yang pada klimaksnya melahirkan peristiwa pembunuhan Khalifah Usman bin Affan (Tahun 345-656 M) oleh para pemberontak yang sebagian besar dari Mesir yang tidak puas dengan kebijakan politiknya. Memang secara lahir nampak peristiwa adalah persualan politik yang berkembang menjadi persoalan Akidah (Teologi) yang melahirkan berbagai kelompok dan aliran teologi dengan pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Pada masa umat Islam tidak mampu lagi mempertahankan kesatuan dan keutuhan akidah, karena masing-masing berusaha membuka persoalan akidah yang pada masa sebelumnya terkunci. Masing-masing kelompok membawa keluar persoalan Akidah untuk dilepaskan bersama kelompoknya sehingga muncul pemahaman versi kelompok tersebut.
Maka lahir cabang-cabang akidah yang pemahaman bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman misalnya rukun iman yang pertama (iman kepada Allah) muncul perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam membicarakan zat tuhan, sifat tuhan, dan af’a,al (perbuatan) tuhan. Persoalan yang muncul dalam masalah iman kepada malaikat separti, apakah iblis termasuk golongan dari mereka.
Dalam mempercayai kitab Allah juga muncul persoalan yang diikhtilafkan seperti apakah kitab (wahyu) itu malaikat (diciptakan) atau bukan makhluk sehingga bersifat kekal (qadim). Mereka juga berpendapat mengenai berapa jumlah Rasul atau Nabi yang pernah diutus oleh Allah kebumi. Persoalan yang muncul dari keyakinan tentang hari kiamat adalah balasan apakah yang akan diterapkan kelak pada hari kiamat, jasmani atau hanya rohani saja.
Adapun persoalan yang muncul disekitar masalah rukun iman yang ke enam (iman kepada takdir) adalah apakah manusia mempunyai kebebasan dalam berbuat ataukah sebaliknya.[5]

V.            Aqidah-aqidah pokok dan cabang di sekitar Tuhan, Malaikat, Nabi, kitab Al Qur’an, Akhirat(hidup sesudah mati), Takdir dan Sunnatullah.
AKIDAH POKOK DAN CABANG
A.    Tuhan
Inti pokok ajaran Al-Qur’an adalah Akidah. Sedang inti dari akidah adalah tauhid yakni keyakinan bahwa Allah SWT Maha Esa. Tidak ada tuhan selain-Nya.
ö@è% uqèd ª!$# îymr& ÇÊÈ   ª!$# ßyJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ôs9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7ymr& ÇÍÈ  
Artinya :
Katakanlah : “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan dia.”
 (Q.S.Al-Ikhlas : 1-4

B.     Malaikat.
Iman kepada malaikat mengandung arti bahwa seorang mukmin hendaknya percaya sepenuhnya bahwa Allah menciptakan sejenis makhluk yang disebut malaikat.
Malaikat ialah makhluk halus ciptaan Allah yang terbuat dari Nur (cahaya). Mereka adalah hamba Allah yang mulia dan selalu menuruti perintah-Nya. Malaikat tidak mempunyai nafsu dan mereka tidak pernah mendurhakai kepada Allah dan senantiasa menjalankan tugasnya.
Tugas dan pekerjaan malaikat berbeda-beda mereka dipimpin oleh sepuluh malaikat yang wajib diketahui yakni :
a.       Jibril, yaitu yang menjabat pimpinan malaikat dan menyampaikan wahyu.
b.      Mikail bertugas mengatur kesejahteraan manusia dan semua makhluk.
c.       Izra’il bertugas mencabut nyawa semua jenis makhluk.
d.      Munkar dan Nakir bertugas menanyai manusia setelah mati didalam kubur.
e.       Raqib dan Atid bertugas mencatat semua amal kebaikan dan keburukan manusia.
f.       Israfil bertugas meniup terompet pada hari kiamat dan hari kebangkitan.
g.      Ridwan bertugas menjaga surga
h.      Malik bertugas menjaga neraka

C. Kitab-Kitab/Wahyu.
Beriman kepada kitab Allah ialah mempercayai bahwa Allah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul untuk menjadikan pedoman hidup manusia dalam mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.
Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para rasul cukup banyak, namun yang jelas disebutkan dalam Al-Qur’an hanya empat dan wajib diketahui oleh orang Islam, yaitu :
- Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s
- Zabur diturunkan kepada Nabi Daud a.s
- Injil diturunkan kepada Nabi Isa a.s
- Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
Permasalahan yang diikhtilafkan dalam persoalan kitab dikalanagan orang Islam ialah apakah Al-Qur’an itu Qadim (kekal) atau hadis (baru). Golongan Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah Qadim, bukan makhluk (diciptakan). Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah tidak qadim karena Al-Qur’an itu diciptakan (makhluk).
C.    Nabi atau Rasul.
Beriman kepada Rasul-Rasul Allah ialah meyakini bahwa Allah telah memilih beberapa orang diantara manusia, memberikan wahyu kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai utusan (Rasul) untuk membimbing manusia kejalan yang benar.
Mereka diutus Allah untuk mengajarkan Tauhid, meluruskan aqidak, membimbing cara beribadah dan memperbaiki akhlak manusia yang rusak. Beiman kepada Rasul cukup secara global (Ijmal) dan yang wajib diketahui ada 25 Rasul, Yaitu :
1. Nabi Adam a.s
2. Nabi Idris a.s
3. Nabi Nuh a.s
4. Nabi Hud a.s
5. Nabi Shaleh a.s
6. Nabi Ibrahim a.s
7. Nabi Luth a.s
8. Nabi Ismail a.s
9. Nabi Ishaq a.s
10. Nabi Ya’qub a.s
11. Nabi Yusuf a.s
12. Nabi Ayub a.s
13. Nabi Syu’aib a.s
14. Nabi Musa a.s
15. Nabi Harun a.s
16. Nabi Zulkifli a.s
17. Nabi Daud a.s
18. Nabi Sulaiman a.s
19. Nabi Ilyas a.s
20. Nabi Ilyasa’ a.s
21. Nabi Yunus a.s
22. Nabi Zakaria a.s
23. Nabi Yahya a.s
24. Nabi Isa a.s
25. Nabi Muhammad SAW

Masalah yang masih diperselisihkan dalam kaitannya dengan iman kepada para Nabi dan Rasul adalah mengenai jumlah. Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah seluruhnya adalah 124.000 orang. Dari sejumlah itu yang diangkat menjadi Rasul ada 313 orang.
D.    Hari Akhirat ( Hidup Sesudah Mati )
Hari kiamat (Hari Akhirat) ialah kehancuran alam semesta segala yang ada didunia ini akan musnah dan semua makhluk hidup akan mati, selanjutnya akan berganti dengan yang baru yang disebut Alam Akhirat. Iman kepada hari kiamat berarti mempercayai akan adanya hari tersebut dan kehidupan sesudah mati serta beberap hal yang berhubungan dengan hari kiamat. Seperti kebangkitan dari kubur, Hisab (Perhitungan Amal), Sirat (Jembatan yang terbentang diatas punggung neraka), Surga dan Neraka.
Kapan hari kiamat akan datang, tidak seorangpun yang tahu dan hanya Allah saja yang mengetahui. Manusia hanya diberi tahu melalui tanda-tandanya sebelum hari kiamat tiba. Para ulama telah sepakat dalam masalah adanya hari kiamat dan hal-hal yang terjadi didalamnya hanya saja mereka Ikhtilaf tentang apa yang akan dibangkitkan. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dibangkitkan meliputi jasmani dan rohani. ini dikeluarkan oleh golongan Ahlus Sunah Wal Jamaah. Adapun pendapat kedua yang dibangkitkan adalah rohnya saja.

E.     Takdir atau Sunatullah.
Beriman kepada takdir artinya seseorang mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT. Tidak menjadikan segala makhluk dengan Kudrat dan Iradat-Nya dan dengan segala hikmah-Nya.
Artinya :“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya.” (Q.S.Al-Qamar : 49)
Beriman kepada takdir bagi setiap orang muslim bukan dimaksudkan untuk menjadikan manusia lemah, pasif, statis atau menyerah tanpa usaha. Bahkan dengan beriman kepada takdir mengharuskna manusia untuk bangkit dan berusaha keras demi mencapai takdir yang sesuai kehendak yang diinginkan.[6]
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S.Ar-Rad : 11 )

VI.            Sejarah munculnya persoalan Teologi dalam Islam
- TEOLOGI DALAM ISLAM.
Ketika Nabi Muhammad Saw. Mulai menyiarkan agam ajaran-ajaran Islam yang beliau terima dari Allah SWT di Mekkah, kota ini mempunyai sistem kemasyarakatan yang terletak di bawah pimpinan suku bangsa Quraiy.
Dipertengahan ke dua dari abad ke-enam Masehi, jalan dagang Timur – Barat berpindah dari Teluk Persia – Euphrat di Utara dan Laut Merah – Perlembahan Neil di selatan, ke Yaman – Hijaz – Syria.
Peperangan yang senantiasa terjadi antara kerajaan Byzantin dan Persia membuat jalan Utara tak selamat dan tak menguntungkan bagi dagang. Mesir, mungkin juga sebagai akibat dari peperangan Byzantin dan Persia, berada dalam kekacauan yang mengakibatkan perjalanan dagang melalui Perlembahan Neil tidak menguntungkan pula.
Dengan pindahnya perjalanan dagang Timur – Barat ke Semenanjung Arabia, mekkah yang terletak di tengah – tengah garis perjalanan itu, menjadi kota dagang. Pedagang – pedagangnya pergi ke Selatan membeli barang – barang yang dating dari Timur, yang kemudian mereka bawa ke Utara untuk dijual di Syria.
Dari pedagang transit ini, Mekkah menjadi kaya. Perdagangan ini dipegang oleh Quraisy dan orang-orang yang berada dan berpengaruh dalam masyarakat pemerintah mekkah juga terletak di tengah-tengah mereka. Pemerintah dijalankan melalui majlis suku bangsa yang anggota-anggotanya tersusun dari kepala suku yang dipilih menurut kekayaan dan pengaruh mereka dalam masyarakat.
Kekuasaan sebenarnya terletak dalam tangan kaum pedagang tinggi. Kaum pedagang tinggi ini, untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka, mempunyai perasaan solidaritas kuat yang kelihatan efeknya dalam perlawanan mereka terhadap nabi Muhammad Saw, sehingga beliau dan pengikut-pengikutnya terpaksa meninggalkan Mekkah pergi ke Yasrib di th.622-M. Sebagai mana diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw termasuk orang yang ekonominya sederhana.
Suasana di Yasrib beda dengan kota Mekkah. Kota ini bukan kota pedagang tetapi kota petani. Masyarakatnya tidak homogeen, tetapi terdiri dari orang Arab, dan bangsa Yahudi.
-          Pandangan-Pandangan Teologis Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah

1.      Masalah status dan pelaku dosa besar.
Pertama, aliran Khawarij berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir. Artinya keluar dari islam (murtad), karena itu ia wajib dibunuh.
Kedua, aliran Murji’ah menegaskan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin, bukan kafir. Adapun dosa yang dilakukannya terserah kepada Allah untuk diampuni atau tidak.
Ketiga, aliran Mu’tazilah, kaum ini tidak setuju dengan pendapat-pendapat di atas. Bagi orang yang berdosa besar bukan kafir tetapi juga bukan mukmin. Orang yang melakukan dosa besar mengambil posisi antara mukmin dan kafir. Hal ini dikenal dengan paham/istilah Manzilah baina al Manzilataini.
Keempat, aliran Asy’ariyah tidak mengafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar selama ia masih sujud ke Baitullah. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukan dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, maka ia dipandang kafir. Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar hal itu bergantung pada kebijakan Tuhan yang maha berkehendak.
Kelima, aliran Maturidiyah menyatakan bahwa pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. Adapun balasan yang diperoleh di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia.
2.      Masalah perbuatan manusia dalam kaitanya dengan perbuatan Tuhan.
Pertama, aliran Jabariyah yang dalam persoalan tersebut memahami bahwa manusia tidak berkuasa atas perbuatannya. Hanya Allah sajalah yang menentukan dan memutuskan segala amal perbuatan manusia. Semua amal perbuatan itu adalah atas Qudrat dan Iradat-Nya. Manusia tidak mencampuri sama sekali.
Dalam paham Jabariyah, perbuatan manusia dalam hubungannya dengan tuhan sering digambarkan bagai bulu ayam yang diikat dengan tali yang digantungkan di udara. Kemana angin bertiup kesanalah bulu ayam itu terbang. Ia tidak mampu menentukan dirinya sendiri, tetapi terserah angin. Apabila perbuatan manusia diumpamakan sebagai bulu ayam, maka angin itu adalah Tuhan yang menentukan ke arah mana dan bagaimana perbuatan manusia itu dilakukan. Kadang-kadang manusia diumpamakan pula seperti wayang yang tidak berdaya. Bagaimana dan ke mana ia bergerak terserah dalang yang memainkan wayang itu. Dalang bagi manusia adalah Tuhan.
Kedua, aliran Qadariyah sering juga diidentikkan dengan aliran Mu’tazilah. Aliran Qadariyah memahami bahwa manusia itu bebas memilih atas perbuatannya (kholiqul af-al). Mereka berpendapat bahwa kemauan manusia itu bebas, dan itu berarti bahwa manusia itu bebas untuk berbuat atau tidak berbuat, sehingga manusia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perbuatannya, manusia berhak menerima pujian dan pahala atas perbuatannya yang baik dan menerima celaan dan hukuman atas perbuatannya yang salah atau dosa.
Dari uraian singkat di atas, maka terlihat bahwa menurut paham Qadariyah, Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan itu. Jika perbuatan manusia diciptakan Tuhan seluruhnya, maka taklif tidak ada artinya. Pahala dan siksa tidak berguna karena perbuatan itu dikerjakan bukan dengan kehendak dan kemauan sendiri.
Ketiga, aliran Asy’ariyah yang dalam persoalan ini lebih dekat dengan paham Jabariyah daripada kepada paham Mu’tazilah. Untuk menggambarkan pahamnya mengenai perbuatan manusia dalam kaitannya dengan perbuatan Tuhan, Asy’ary menggunakan teori Al-Kasb
3.      Masalah sifat sifat Tuhan.
Pertama, aliran Mu’tazilah yang memahami dan membahas persoalan ini dengan berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Mereka berargumen jika Tuhan mempunyai sifat, sifat itu mesti kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Namun jika demikian maka yang bersifat kekal bukanlah satu lagi, tetapi banyak. Jika Tuhan itu mempunyai sifat-sifat maka akan menyebabkan paham banyak yang kekal (Ta’aduddul qudama) yang selanjutnya melahirkan paham syirik atau polytheisme sebagai sesuatu yang tidak mendapat tempat di dalam teologi islam.
Jadi menurut Mu’tazilah Tuhan itu Esa, tidak mempunyai sifat-sifat sebagaimana pendapat golongan lain. Apa yang dipandang sebagai sifat dalam pendapat golongan, bagi Mu’tazilah tidak lain adalah zat Allah sendiri.
Kedua, aliran Asy’ariyah yang membahas persoalan sifat-sifat Tuhan dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan pendapat golongan Mu’tazilah. Aliran Asy’ariyah dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mereka pula mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya.
Ketiga, aliran Maturidiyah yang dalam hal ini berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui sifat-sifat itu sendiri. Maka selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.
VII.            Mahzab(Aliran) dalam ilmu kalam
1.      Jabariyah
Kata Jabariyah berasal dari kata jabara yaitu memaksa. Dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatanya dalam keadaan terpaksa. Memang dalam faham ini manusia mengerjakan perbuatan-perbuatannya dengan keadaan terpaksa. Dalam istilah Inggris disebut dengan fatalism atau predestionation.
 Perbuatan perbuatan manusia telah ditentukan oleh qada’ dan qodar Tuhan. Masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham jabariah ini, sehingga pada saat itu orang Arab kehidupannya bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, dan harus menyesuaikan diri dengan suasana padang pasir,dengan panasnya yang terik serta tanah dan gunungnya yang gundul.
Dalam dunia yang demikian mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekelilingnya sebab dirinya merasa lamah dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bergantung pada kehendak nature. Hal ini membawa mereka pada sikap fatalistis
2.      Qodariyah
Qodariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu qodara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Secara terminologi Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak di ikut campuri oleh Tuhan.
Pendapat kaum Qodariah, bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dalam artian menurut faham Qodariah manusia mempunyai kemerdekaan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian nama Qodariah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan .
3.      Murji’ah
Nama murji’ah di ambil dari kata irja’a yang bermakna penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Dan berarti juga memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dossa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.
kaum Murji’ah pada mulanya juga ditimbulkan oleh persoalan-persoalan politik, tegasnya persoalan khalifah yang membawa perpecahan dikalangan ummat Islam setelah ‘Utsman Ibnu Affan mati terbunuh. Pada mulanya kaum Murji’ah pendukung daripada kaum khawarij akan tetapi berbalik menjadi musuh besar mereka. Karena adanya perlawanan ini, pendukung yang masih tetap setia padanya semakin bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan satu golongan lain dalam Islam yang dikenal dengan nama Syi’ah. Kefanatikan golongan ini terhadap ‘Ali bertambah keras, setelah ia sendiri mati terbunuh pula. Diantara kaum Khawarij dan Syi’ah menjadi dua golongan yang saling bermusuhan.
4.      Khowarij
Khowarij berasal dari bahasa Arab, yaitu khoroja yang berarti keluar, muncul, timbul, atau memberontak, disebut khowarij orang yang memberontak imam yang sah dan setiap muslim yang ingin keluar dari kesatuan umat islam.
Kaum khawarij terdiri ata pengikut-pengikut ‘Ali Ibnu Talib yang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju dengan sikap ‘Ali Ibnu Talib dalam menerima arbritase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tenteng khalifah dengan Mu’awiyah Ibnu Sufyan. Nama khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari barisan ‘Ali. Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pemberian nama itu didasarkan atas ayat 100 dari surat An-nisa’, yang dalamnya disebutkan : ” ke luar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul Nya”.
Dengan demikian kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dari kampung halamannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul Nya.

5.      Syiah
Syi’ah secara bahasa berarti pengikut, pendukung, partai, atau kelompok, sedangkan secara istilah adalah sebagian kaum muslimyang dalam bidang spritual dan keagamanya selalu berujuk pada keturunan nabi Muhammad SAW, atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait.

6.      Mu’tazila
Mu’tazila berasal dari i’tazala yang berarti berpisah, atau memisahkan diri. Aliran ini lah yang berpendapat bahwa “orang yang berbuat dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.
Kaum mu’tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofisdaripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum Khawarij dan Murji’ah. Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama ” kaum rasionalis Islam “.
Berbagai analisa yang dimajukan tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada mereka. Uraian yang biasa disebut buku-buku ‘ilmu al-Kalam berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil Ibnu ‘Ata’ serta temannya ‘Amr Ibnu ‘Ubaid dan Hasan al-Basri di Basrah. Wasil selalu mengikuti pelajaran-pelajaran yang diberikan Hasan al-Basri di mesjid Basrah. Pada suatu hari dating seorang bertanya mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar. Sebagai diketahui kaum Khawarij memandang mereka kafir, sedangkam kaum Murji’ah memandang mereka mukmin. Ketika Hasan al-Basri berfikir, Wasil mengeluarkan pendapatnya sendiri dengan mengatakan :
“Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mkmin dan bukan pula kafi, tetapi mengambil posisi tengah-tengah. Kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri dari Hasan al-Basri pergi ketempat lain di masjid, disana ia mengulangi pendapatnya. Atas peristiwa ini Hasan al-Basri mengatakan : “Wasil menjauhkan diri dari kita (I’tazala’anna)”. Dengan demikian ia serta teman-temannya, kata al-Syahrastani, disebut kaum Mu’tazilah.
7.      Ahli sunnah wal Jama’ah
Ahli Sunnah dan jama’ah ini kelihatannya timbul sebagai reaksi terhadap faham-faham golongan Mu’tazilah yang telah dijelaskan sebelumnya dan terdapat sikap mereka dalam menyiarkan ajaran-ajaran itu. Mulai dari wasil usaha-usaha mereka telah dijalankan untuk menyebarkan ajaran-ajaran itu, disamping usaha-usaha yang dijalankan dalam menentang serangan musuh-musuh Islam.[7]











                                               DAFTAR PUSTAKA

stai-kuliahku.blogspot.com/.../sejarah-timbulnya-persoalan-persoalan.html
Drs. H. Muhidin, SH, M.H, 2006. Risalah Tauhid Dalam Ilmu Kalam. Kuala Kapuas
Syaikh Abu Bakar Al- Jazairi, 1995. Aqidah Mukmin. Madina: Maktabah Al- Ulum Wal Hikam
Rosihan Anwar, 2009. ilmu kalam untuk uin , stain , ptais.  Bandung: Cv. Pustaka Setia
Drs. H. Komaruddin, 2007. Sahar.Ilmu Kalam. Palembang: IAIN Raden Fatah Press
Nasution, Harun, 1992. Tiologi Islam. Jakarta: Djambata
Murtdha Muthahhari, 2002. Mengenal Ilmu Kalam. Jakarta: Pustaka Zahra



[1] Murtdha Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam. (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002)
[2] Nasution, Harun. Tiologi Islam. ( Jakarta: Djambata, 1992)
[3] Drs.H Komaruddin, Sahar.Ilmu Kalam. (Palembang: IAIN Raden Fatah Press, 2007), hlm.5.
[4] Rosihan Anwar, ilmu kalam untuk uin , stain , ptais , ( Bandung : Cv. Pustaka Setia. 2009)
[5] Syaikh Abu Bakar Al- Jazairi, Aqidah Mukmin. (Maktabah Al- Ulum Wal Hikam: Madinah. 1995)
[6] Drs. H. Muhidin, SH, M.H. Risalah Tauhid Dalam Ilmu Kalam. (Kuala Kapuas. 2006)
[7] stai-kuliahku.blogspot.com/.../sejarah-timbulnya-persoalan-persoalan.html